Ramai Curhatan Supplier MBG, Ungkap Permintaan Beras Broken hingga Dugaan Markup Invoice

PALU NGATAKU – Sebuah utas berisi banyak curhatan dari supplier program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah viral di platform media sosial Threads.

Program MBG beberapa waktu terakhir kembali jadi sorotan karena kasus dugaan keracunan di sejumlah wilayah.

Para siswa yang menjadi korban pun berjumlah ratusan hingga harus mendapat perawatan medis.

Utas viral tersebut kemudian menjadi perhatian karena berkaitan dengan pemilihan bahan baku dapur untuk digunakan dalam MBG.

Viral Permintaan Beras Broken

Utas viral mengenai bahan baku dapur MBG diunggah oleh akun Threads @dewarmdhy yang membagikan tangkapan layar pesan WhatsApp.

Dalam pesan tersebut, pengirim meminta untuk menyuplai beras broken yang diduga akan digunakan untuk MBG.

“Ada channel yang jual beras broken ga? Ada yang ngajakin gua kerja sama, dia butuh 60 ton per minggu,” tulis pesan dalam chat, dikutip pada Minggu, 6 September 2026.

Penerima pesan kemudian membalas dengan menuliskan bahwa tidak ada beras broken untuk digunakan sebagai bahan baku MBG.

“No no, MBG ya? Udah dikorupsi, beras broken lagi. Dosa banget,” tulisnya.

Baca Juga  Ketua Komisi III DPR RI Serukan Hukuman Mati bagi Pelaku Pembunuhan 3 Polisi di Lampung

Utas yang sudah dilihat lebih dari 358 ribu kali itu juga mendapat 17 ribu like dan lebih dari 800 balasan.

Tak sedikit warganet yang menceritakan pengalaman digaet menjadi supplier bahan baku MBG, namun harus mengorbankan kualitas.

Adapun beras broken sendiri masih bisa dikonsumsi, tapi dengan takaran tertentu.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sempat menegaskan dalam kasus dugaan beras oplosan beberapa waktu lalu, bahwa beras broken hanya digunakan sebagai campuran sebagai standar kualitas beras.

Pengakuan Calon Supplier yang Diminta Kirim Ayam Memar

Sebuah akun bernama @entoniett.s membeberkan bahwa dirinya pernah diajak untuk bekerja sama oleh salah satu dapur MBG dengan memasok daging ayam.

Namun, ia justru diminta untuk mengirimkan ayam afkir, yakni ayam petelur yang sudah melewati masa produktif dan ayam memar.

“Same here! Aku nggak ada bukti karena kemarin sempet ngelayanin customer pesen ayam 150 kg untuk catering, aku iyakan. Ku kasih fresh, pas sampai barang ya normal-normal aja tapi tiba-tiba dia nanya, ‘Mba kalau saya request ayam afkir atau yang memar dikit enggak apa-apa, bisa gak ya?’” tulis pemilik akun.

Baca Juga  14 Atlet dan Pelatih Berprestasi Terima Penghargaan dari Kapolda Sulteng

“Lha baru kali ini ada yang minta ayam jelek, dia lanjutkanlah, ‘Buat stok dapur saya mba, saya asa 2 dapur, harga bisa ya dapat Rp33.000 per kg?’ Nah, yang dia minta fillet dada, Rp33.000 per kg, minta ayam afkir atau memar, ayam begitu ga oke dikonsumsi,” lanjutnya.

Ia menjelaskan bahwa pakan ayam petelur dengan ayam pedaging berbeda, sehingga mempengaruhi dagingnya yang biasanya lebih alot dan cepat bau. 

Saat masih produktif, ayam petelur sering menerima suntikan obat agar mampu bertelur dalam jumlah banyak.

Sedangkan ayam memar, ia tak menyarankan untuk dikonsumsi karena jika terlalu lama dari waktu penyembelihan, akan menjadi ayam tiren.

Cerita Dapur yang Menawar dan Markup Harga

Masih dari pemilik akun yang sama, ia juga membeberkan bahwa ada yang meminta markup anggaran pembelian.

Baca Juga  Reintegrasi Sosial, Kaops Madago Raya Ajak Eks Napiter Jaga Persatuan di Tengah Masyarakat

“Kepala SPPG, stop ya minta harga dada fillet Rp33.000 per kg tapi invoice Rp56.000 per kg. Masih nyepamin gue, gue sebar nomor lu,” sambungnya.

Kemudian akun lain, @gorengankemaren_ menambahkan cerita bahwa ia berjualan lauk frozen dan sempat ditawar jauh di bawah harga oleh dapur MBG.

“Gue jual lauk frozen 1 pack itu range Rp10.000 sampai Rp30.000, ditawar sama orang MBG Rp3.000 per porsi, bikin lauk harganya Rp3.000 per porsi. Pas gue cek di web ternyata ini cewek lumayan terkenal dan emang benar pimpinan salah satu kegiatan MBG,” tuturnya.

Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) juga telah menginstruksikan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG membuat variasi menu yang menarik dengan tetap memperhatikan prinsip Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) serta memanfaatkan bahan pangan lokal.

Selain soal harga dan pasokan, BGN juga mengingatkan agar kualitas ayam dan telur yang digunakan dalam MBG harus diperiksa terlebih dulu, sehingga aman dikonsumsi oleh penerima manfaat. ***

banner

Komentar