Diduga Imbas Menu MBG, Ratusan Siswa dan Guru SMKN 6 Alami Gejala Keracunan

PALU NGATAKU – Sebagian publik di media sosial, tengah ramai menyoroti dugaan kasus keracunan massal imbas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah.

Sebelumnya diketahui, ratusan warga sekolah yang terdiri dari siswa dan guru, sempat mendapatkan perawatan medis usai diduga sempat mengonsumsi menu MBG yang sudah tak layak alias basi, pada Jumat, 31 Juli 2026.

Terkini, total 42 siswa sempat dirawat di puskesmas maupun rumah sakit setempat imbas kasus keracunan tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam menuturkan, terdapat sebanyak 707 warga sekolah, dengan rincian 693 siswa dan 14 guru di SMKN 6 Semarang yang diduga mengalami keracunan menu MBG basi itu.

Baca Juga  Sepanjang Tahap III, Satgas Madago Raya Berhasil Amankan 4 Pucuk Senpi Hingga Bom Rakitan

“Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 707 orang mengalami gejala, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru,” kata Hakam dikutip dalam keterangannya, pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Hakam menyebut, sebanyak 689 orang mendapat penanganan di sekolah. 

Sementara itu, 9 orang lainnya dirujuk ke Puskesmas Halmahera hingga RSUD KRMT Wongsonegoro.

“9 orang dirujuk ke Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu untuk menjalani observasi lebih lanjut,” sebut Hakam.

“Fokus kami saat ini memastikan seluruh siswa maupun guru yang mengalami gejala memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya,” imbuhnya. 

Dinkes Masih Usut Penyebabnya

Dalam penuturannya, Hakam memastikan pihaknya tengah menelusuri penyebab pasti ihwal keracunan massal di SMKN 6 Semarang.

Baca Juga  Polda Sulteng Gagalkan Penyelundupan 2,2 Ton Solar Bersubsidi ke Maluku Utara

Terkhusus, terkait apakah insiden tersebut berkaitan dengan menu MBG yang sudah tak layak konsumsi, atau tidak.

“Secara bersamaan, tim juga melakukan penyelidikan epidemiologi serta pengambilan sampel makanan dan spesimen korban untuk diperiksa di laboratorium sebagai bagian dari penelusuran penyebab kejadian,” beber Hakam.

Hakam menerangkan, pihaknya mengaktifkan Tim Gerak Cepat (TGC) guan menyelidiki epidemiologi. Hal tersebut dilakukan untuk menelusuri sumber dugaan keracunan.

“Kami belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian sebelum seluruh proses pemeriksaan laboratorium selesai,” jelasnya. 

“Karena itu, kami mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil pemeriksaan yang sedang berjalan,” tandas Hakam.

Yayasan hingga SPPG Diselidiki

Atas kasus ini, Dinkes juga berkoordinasi dengan SMKN 6 Semarang, SPPG Kota Semarang Timur atau Karangturi, Yayasan Putra Maju Mapan Mandiri, yang berkaitan dengan pelaksaan program MBG di wilayah tersebut.

Baca Juga  Awali Tahun Baru 2025, Kapolda Sulteng Beri Penghargaan ke Satker dan Personel Berprestasi

“Sebagai langkah kehati-hatian, distribusi makanan dari penyelenggara SPPG terkait dihentikan sementara hingga proses penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan,” ungkap Hakam.

Di lain pihak, Kepala SMKN 6 Semarang, Berty Sagendra juga telah mengonfirmasi adanya tenaga kependidikan (tendik) di sekolahnya yang diduga keracunan MBG.

“Saya dapat laporan terdapat tendik yang terdampak juga,” kata Berty dalam keterangannya, pada Jumat, 31 Juli 2026.

Hingga berita ini terbit, belum ada keterangan lanjutan dari pihak sekolah maupun otoritas berwenang atas kasus keracunan massal di SMKN 6 Semarang.***

banner

Komentar