“Kuat Terbentuk atau Hancur Terlupakan” #savekompolcosmas

Palu Ngataku – Jajaran Korps Bhayangkara, khususnya Korps Brimob Polri, tengah dirundung rasa kecewa usai divonis atau putusan sidang kode etik terhadap Kompol Cosmas Kaju Gae Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) oleh komisi sidang KKEP, pada Rabu (3/9/2025).

Perwira menengah itu dinilai lalai dalam menghadapi aksi massa unjuk rasa pada 28 Agustus 2025, yang berujung insiden tragis seorang driver ojek online terlindas mobil taktis barakuda.

Putusan tersebut menimbulkan luka mendalam bagi jajaran Korps Brimob. Slogan “Kuat Terbentuk atau Hancur Terlupakan” kembali digaungkan oleh sejumlah personel yang menilai peristiwa ini bukan hanya persoalan individu, melainkan juga mencoreng nama baik kesatuan.

Kekecewaan jajaran korps bhayangkara dengan melempar status diberbagai platform media sosial dengan hastag #savekomoolcosmas dan melayangkan petisi yang ditandatangani seluruh prajurit Bhayangkara.

Baca Juga  Sinergi DPD dan DPC, PJS Sulteng Matangkan Persiapan Pelantikan

Kasus ini menyita perhatian publik, terlebih karena rekaman video dan kesaksian warga beredar luas di media sosial. Banyak yang mengecam tindakan aparat, namun tak sedikit pula yang menilai insiden itu terjadi di luar kendali situasi lapangan.

Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, ikut angkat bicara soal tragedi barakuda yang menabrak pedemo. Melalui akun Instagram pribadinya, @mohmahfudmd, Jumat (29/8/2025), Mahfud meminta publik menilai peristiwa tersebut dengan kepala dingin dan tidak langsung menghakimi aparat di lapangan.

“Personel aparat berbarakuda di lapangan yang kemudian menabrak pedemo juga harus dikasihani. Mereka itu mungkin panik karena terjepit. Jika tidak tegas disalahkan oleh atasan, tetapi jika terlalu tegas berhadapan dengan massa,” tulis Mahfud dalam unggahannya.

Baca Juga  Warga Palu Dikejutkan Penemuan Mayat di Pantai Talise

Ia menekankan bahwa dinamika di lapangan kerap tak semudah yang terlihat dari luar. Menurutnya, keputusan dan tindakan aparat sering berada dalam dilema antara melindungi massa, menjaga keamanan, dan memenuhi perintah atasan.

Meski begitu, Mahfud tetap mengingatkan bahwa tragedi tersebut harus dijadikan pelajaran berharga. 

Aparat, kata dia, wajib lebih terlatih dalam mengendalikan situasi agar peristiwa serupa tidak terulang dan tidak lagi menimbulkan korban dari masyarakat. Kasus ini masih menyisakan pro-kontra di tengah masyarakat. 

Di satu sisi, ada tuntutan agar Polri lebih bertanggung jawab. Di sisi lain, ada suara yang meminta publik tidak melupakan tekanan berat yang dihadapi aparat di medan tugas. 

Baca Juga  Lewat Hipnoterapi, Satgas Madago Raya Bangun Kedamaian Pulihkan Mental Eks Napiter di Poso

Pada akhirnya, kasus ini menjadi refleksi bagi seluruh jajaran korps Bhayangkara tentang pentingnya kehati-hatian dalam bertindak menjaga stabilitas kamtibmas serta keseimbangan antara penegakan hukum dan kemanusiaan.

banner

Komentar